Handry

Posts Tagged ‘Bebi Romeo’

Analisis Praktis dan Hipotesa Kans Serta Potensi Sisa Peserta X-Factor Indonesia 2013

In Simple Marketing Analysis on 29/03/2013 at 5:24 pm

Kompetisi bernyanyi. Hingga kini cukup banyak jumlah ajang reality show serupa yang telah dihelat televisi nasional di tanah air hingga kini. Pengaruh ‘Asia Bagus’, kompetisi bernyanyi yang pertama digelar di medio 1992 antar negara Asia seperti Indonesia, Singapura, Malaysia, Korea, Jepang, dan Thailand, sedikit banyak menjadi pertimbangan pelaku bisnis media untuk membuat program serupa. Maka dimulailah invasi singing competition, yang terkadang dibumbui sedikit drama untuk memenuhi keinginan pasar Indonesia yang tak dapat dipungkiri menyenangi  hal-hal tersebut akibat acapkali dijejali derai air mata melalui puluhan nomor judul sinetron yang membanjiri jam prime time televisi setiap harinya.

Untuk edisi tahun 2013 ini, tanah air kedatangan pendatang baru dalam bisnis ini. Sebuah franchise kreasi mantan judges American Idol, Simon Cowell, bertitel “X-Factor” menyapa pemirsa terhitung Februari 2013 lalu. RCTI berani membeli hak siar brand ini nampak untuk menghindari kejenuhan masyarakat apabila Indonesian Idol ‘dipaksakan’ untuk kembali digelar hanya demi mengisi slot pada schedule mingguan mereka.

x f

Hingga penulis menulis catatan kecil ini, X Factor telah menuntaskan Gala Show hingga penyelenggaraan ke-5 nya pada Jum’at 22 Maret 2013. Sebelum memasuki stage Gala Show, para juri, merangkap mentor, yang berformasikan Ahmad Dhani Prasetyo, Sri Rossa Roslaina Handayani (Rossa), Anggun Cipta Sasmi, dan Virdy ‘Bebi’ Megananda (ex-vokalis Romeo band) alias Bebi Romeo telah menyaring dan memilih peserta-peserta untuk bergabung dalam tim naungan mereka masing-masing. Ahmad Dhani mendapat porsi menjadi mentor untuk kategori Group, grup yang ia tangani adalah Dalagita, Illusia Girls, dan Nu Dimension. Rossa membawahi para peserta wanita di bawah usia 26 yaitu Fatin Shidqia Lubis, Shena Malsiana, dan Yohana Febianti Hera. Anggun memegang komando atas Mikha Angelo Brahmanto, Gede Bagus Perdana Putra, dan Dicky Adam Siregar pada kategori boys. Sementara Bebi kedapatan menjadi ‘papa’ bagi peserta dengan usia di atas 26 tahun yakni Isa Raja Lubis, Novita Dewi Marpaung, Agus Hafiluddin dan Alex Rudiart Hutadjulu.

judges

Selayaknya acara kompetisi bernyanyi sejenis, pro kontra terhadap masing-masing kontestan tak dapat dihindarkan mewarnai setiap perjalanan episode yang digelar. Mulai dari audition stage, Bootcamp, Judges Home Visit, hingga Gala Show kerap kali penulis temukan komentar-komentar seputar acara ini, utamanya di dunia maya dan sosial media. Baik itu pedas, menggelitik, tajam, kasar, membangun, hingga para judges pun tak mampu terhindar dari hujanan kritik apabila tampil kurang berkenan di hati para pemirsa pada suatu episode. Pemirsa dan masyarakat luas pun menjadi komentator dadakan, atau dapat diibaratkan sebagai ribuan dosen penguji yang hadir pada suatu sidang tugas akhir, andaikata tak mampu menjawab berbagai ekspektasi mereka, kesiapan mental menerima racauan-racauan yang datang menjadi poin penting untuk dipersiapkan para kontestan.

Pada artikel ini, penulis mencoba melakukan analisis kecil-kecilan untuk membedah alasan dibalik tereliminasinya seorang kontestan pada tiap episode nya. Maka apabila ada suatu hal dalam tulisan ini yang nampak kurang berkenan, penulis mohon maaf, tujuan di balik penulisan ini hanyalah sebuah penjabaran atas realita yang terjadi serta penarikan kesimpulan terhadap opini-opini yang mengalir apa adanya, ditambahkan dari pendapat penulis terhadap apa yang telah disaksikan, untuk mencari alasan dibalik pertanyaan yang mengganjal tersebut. Tentunya tulisan diusahakan berada di koridor penilaian yang seobjektif mungkin tanpa memihak satu pun kontestan.

Hingga Gala Live Show 5 yang lalu, praktis X Factor Indonesia hanya menyisakan 8 peserta. Dalagita, Dicky Adam, Yohana Febianti, Illusia Girls hingga terakhir Agus Hafiluddin berurutan harus legowo menerima kenyataan bahwa mereka tak mendapat kesempatan melanjutkan gebrakan mereka di babak berikutnya. Yang patut digarisbawahi di sini adalah sistem eliminasi X Factor memiliki karakternya tersendiri. Hasil pesan singkat di tiap episode akan dikalkulasi, dan untuk para peserta yang menempati 2 peringkat terbawah (bottom two) masih mendapat jatah untuk menunjukkan performance singkat dalam sesi ‘Save Me’ Song. Setelah menyanyikan lagu masing-masing, tiap judges memiliki hak veto untuk memilih mana penyanyi yang berhak melaju ke babak selanjutnya. Andaikata salah satu peserta berhasil mengantongi minimal 3 suara dari 4 judges, maka ia otomatis lolos. Namun, apabila hasilnya seimbang 2-2 maka keputusan kembali pada hasil polling sms yang masuk, dan peserta yang memiliki persentase terendah dipastikan tersingkir. Di sinilah uniknya, sehingga membutuhkan strategi untuk ‘mengakali’ hal tersebut.

Selanjutnya, di sini penulis mencoba menganalisis 2 peserta bottom two di tiap episode. Seperti apa lagu yang dibawakan, seperti apa performa nya, perbandingan dengan performance kontestan lain, dan faktor lain yang dapat mempengaruhi penilaian pemirsa.

  • Gala Live Show 1 (22 February 2013) – Peserta yang masuk bottom two: Dicky Adam vs Ilusia Girls

Lagu yang dinyanyikan Dicky dalam Gala Live Show 1 dan ‘Save Me Song’ : Nirvana – Smells like teen spirit & Adele – My Same

Lagu yang dinyanyikan Ilusia Girls dalam Gala Live Show 5 dan ‘Save Me Song’ : Shontelle – Impossible & Adele – Set Fire To The Rain

Hasil ‘Save Me Song’ session : 2 -2. Dicky mendapat 2 suara dari Anggun dan Bebi, sementara Ilusia mendapat 2 suara dari Ahmad Dhani dan Rossa. Hasil akhir pun kembali merujuk pada polling SMS yang menyatakan Dicky Adam tersingkir.

Analisis Gala Live Show 1: Keberadaan Dicky Adam di bottom two nampak lebih dikarenakan faktor ‘ketidaksiapan’ mayoritas penikmat musik di Indonesia dalam menerima suatu keunikan yang tidak biasa. Dicky yang mengusung Androgini style, penggabungan ‘rasa’ feminim dan maskulin dalam satu kemasan, dengan balutan suara yang tinggi layaknya wanita, nampak belum mampu menyeruak set mainstream yang ‘distandarkan’ para pemirsa yang secara kasat mata menginginkan hal unik yang menurut mereka tidak terlalu over dan ‘nyeleneh’, hanya masalah waktu dan adaptasi, hal ini pula yang nantinya melanda Isa Raja di 2 minggu berikutnya. Suatu hal yang cukup disayangkan mengingat ada suatu warna baru yang berpotensi menambah alternatif pilihan hiburan, karakter Dicky yang telah kuat bak gayung yang tak bersambut di benak para pemirsa. Berdasarkan komentar yang masuk ke video Youtube ini: http://www.youtube.com/watch?v=QL8puVRaWo0, nyaris didominasi oleh komentar positif mengenai penampilan Dicky, Ia dianggap berhasil mengeksekusi lagu legendaris Nirvana dalam nuansa yang berbeda, namun kenyataannya SMS dukungan terhadap Dicky tetap berada di urutan paling buncit. Nampak akan menarik apabila ada penelitian lebih jauh mengenai penjabaran demografi, psikografi, serta alasan yang melatarbelakangi orang-orang dalam mengirim/tidak mengirim SMS sehingga dapat memudahkan kontestan serta mentor untuk mereka-reka strategi seperti apa yang harus mereka susun tiap minggunya.

Sementara untuk Ilusia, dapat dimengerti bahwa seluruh member dari Ilusia pada awalnya mendaftarkan diri solois, beberapa masih nampak mencoba untuk lebih menonjol, kesamaan visi menjadi terpenting bagi sebuah grup vokal, pembagian porsi bernyanyi pun harus jelas seperti lead ataupun backing yang bergiliran, serta kapan membutuhkan harmonisasi secara keseluruhan. Kerja Dhani menurut saya adalah yang terberat di X Factor ini karena diharuskan menyatukan berbagai pola pikir dari latar belakang yang berbeda dalam satu tujuan, terkecuali Dalagita yang memang telah menjadi grup sedari awal.

Overall,  kedua peserta di atas memang tenggelam di antara penampilan peserta lain, terutama pada aspek ketertarikan pemirsa untuk mengirimkan dukungan melalui pesan singkat dengan berbagai alasan mereka dalam memilih. Sementara dalam Save Me Song, yang sudah tak melibatkan penonton, hasil imbang membuktikan tak ada dari keduanya yang mampu tampil lebih meyakinkan (padahal lagu pada Save Me Song telah mereka tentukan sebelum tiap episode digelar. Ini perlu menjadi catatan dan bagian dari strategi).

dicky

  •  Gala Live Show 2 (1 Maret 2013) – Peserta yang masuk bottom two: Dalagita vs Isa Raja

Lagu yang dinyanyikan Isa dalam Gala Live Show 2 dan ‘Save Me Song’ : Ahmad Band – Aku Cinta Kau Dan Dia & Paramore – The Only Exception

Lagu yang dinyanyikan Dalagita dalam Gala Live Show 2 dan ‘Save Me Song’ : Dewa 19 – Roman Picisan & The Sound of Music – The Lonely Goatherd

Hasil ‘Save Me Song’ session : 3-1 untuk Isa. Isa mendapat 3 suara dari Bebi, Rossa, dan Anggun, sementara Dalagita hanya memperoleh 1 suara dari sang mentor, Ahmad Dhani. Dalagita otomatis menyudahi petualangannya.

Analisis Gala Live Show 2: Menurut saya, Dalagita seharusnya dapat mengambil ‘keuntungan’ dari persepsi mayoritas publik remaja mengenai belum adanya grup vokal wanita seumuran mereka yang benar-benar memiliki kualitas mumpuni dalam bernyanyi sebagai satu kesatuan grup. Opini pribadi, satu-satunya grup vokal wanita seumuran mereka yang mampu menarik perhatian saya adalah grup vokal yang berada di bawah naungan Kevin Aprillio, Princess. Dalagita pertama kali menarik perhatian banyak orang saat membawakan Bohemian Rhapsody milik Queen pada tahap audisi pertama. Menurut saya, ini adalah suatu perwujudan dari ketidaksabaran. Dengan membawakan sebuah lagu berkualitas dunia sedari awal akan membumbungkan ekspektasi penonton ke tingkat yang tinggi terhadap penampilan mereka pada tiap babak nya. Hal ini pula yang nampak membebani mereka, sedikit saja terdengar kurang enak, entah akibat gugup ataupun teknis, akibat ekspektasi yang telah digiring begitu tinggi semenjak ‘batu pertama’ membuat kritik akan mudah mengalir dan mereka akan dengan mudah dituding tak memiliki progress yang pasti. Akan lebih bijak apabila kontestan baru membawakan lagu sekelas Bohemian di tahap pertengahan menjelang akhir (antara 6 besar hingga akhir) agar masyarakat melihat seseorang tersebut sebagai sosok yang memiliki tipikal pembelajar dan menawarkan peningkatan yang signifikan (padahal itu adalah bagian dari strategi). Pengecualian bagi seseorang yang benar-benar dikaruniai teknik tinggi dalam bernyanyi, menyanyikan Bohemian Rhapsody sedari awal pun tak menjadi masalah, hal ini dibuktikan oleh salah satu juara American Idol, David Cook.

Bagi Isa, ‘keliaran’ dan aksi eksentrik nya telah menjadi daya tarik yang berpotensi menjadi karakter tetapnya di atas panggung. Secara kualitas, tarikan vokalnya khas, nyaris selalu sukses mengintrepretasikan isi lagu dengan baik, hanya saja rambut hijau nya di episode ini (dan juga episode berikutnya) nampak menahan keinginan pemirsa dalam menekan format SMS yang ada untuknya. Hingga episode ini pun, terlihat pemirsa belum ‘beradaptasi’ dan masih merasa asing dengan karakter penuh kebebasan berekspresi yang ditampilkan Isa sehingga terasa penerimaan atas karakternya belum begitu kentara yang membuat dukungan terhadapnya masih terkapar dalam kategori rendah. Hal itu akan berbanding terbalik mulai episode Gala Live Show 4 dan 5 dimana Isa tak terjerembab pada bottom two, terasa ‘aura’ bahwa masyarakat mulai terbiasa dengan keberadaan karakter Isa yang ‘urakan’, dengan gaya yang seolah berada di dunianya sendiri ketika menjelajahi isi panggung.

Overall, hal nonteknis dialami Isa pada sesi awal, ini dibuktikan dalam sesi akhir yaitu Save Me Song, Pede Isa masih terjaga dalam kestabilan yang mantap dikarenakan personality nya yang cuek dan ‘hajar terus’, sementara masalah dialami Dalagita yang berisikan 6 orang ditambah mentalnya yang digerogoti oleh kegugupan dan beban untuk lolos sehingga kebanyakan dari mereka tak lepas dalam bernyanyi, hal ini membuat para judges cenderung teryakinkan bahwa Isa lebih memiliki faktor yang mampu terus menarik minat pemirsa untuk stay tune di depan layar kaca setiap Jum’at malam.

dalagita

  • Gala Live Show 3 (8 Maret 2013) – Peserta yang masuk bottom two: Isa Raja vs Yohanna Febianti

Lagu yang dinyanyikan Isa dalam Gala Live Show 3 dan ‘Save Me Song’ : U2 – Where The Streets Have No Name & The Killers – Human

Lagu yang dinyanyikan Yohanna dalam Gala Live Show 3 dan ‘Save Me Song’ : Ruth Sahanaya – Cinta Ini Takkan Mati – Gloria Estefan – 123

Hasil ‘Save Me Song’ session : 2-2 . Isa mendapat 2 suara dari Bebi dan Anggun, sementara Yohanna memperoleh 2 suara dari Rossa dan Dhani. Keputusan kembali mengacu pada hasil SMS yang membuat Yohanna mesti menerima nasib untuk angkat koper lebih awal.

Analisis Gala Live Show 3: Sekali lagi Isa Raja terdampar di posisi ‘pesakitan’, menampilkan lagu favoritnya, aura Bono U2 cukup melekat pada aksinya kali ini ditambah gimmick tak terlupakan dengan mengenakan strait jacket (jaket orang gila) di bagian awal lagu. Hal itu tak terlalu dipusingkan, namun perwujudan Isa yang masih mempertahankan warna hijau rambutnya cukup memupuk antipati, setidaknya hingga episode ini. Dengan negara yang mayoritas penduduknya menganut adat ketimuran, appearance mengenakan banyak anting, idealisme dalam memilih lagu, dan penampilan eksentrik nya, tak dapat disangkal belum mampu menggerakkan hati mereka yang mayoritas mengirimkan SMS. Padahal penampilannya termasuk yang paling tak dapat ditebak sehingga menimbulkan unsur kepenasaran, sejauh ini menurut pandangan saya pribadi. Hemat saya, faktor Isa dan Yohanna lebih disebabkan lagu yang mereka bawakan kalah familiar dibanding semisal ‘We are young’ yang popular karena dipergunakan sebagai backing song salah satu iklan produk otomotif belakangan ini, ‘Cinta di ujung jalan’ dari Agnes, ‘The A Team’, ‘Girl On Fire’, ‘Turning Tables’ dan lainnya yang dibawakan oleh kontestan lain. Sekali lagi, penelitian terhadap seperti apa mayoritas orang yang mengirimkan SMS baik dari segi segmentasi psikografi dan demografi serta latar belakang lainnya menjadi hal yang akan banyak membantu. Jika diambil hipotesa secara kasar, kemungkinan mengerucut pada ‘mayoritas orang yang mengirimkan SMS adalah teman, keluarga, serta anak-anak masa kini’. Jika hal tersebut terbukti, maka tak menjadi suatu keanehan bahwa hingga saat ini Fatin Shidqia dan Mikha Angelo menjadi dua peserta yang menurut saya selalu berada di posisi aman karena kerap bermain safe dengan acapkali membawakan lagu top hits terkini yang jelas familiar di telinga pendengar remaja menengah perawalan dewasa, semacam lagu Rihanna, Ed Sheeran ataupun Maudy Ayunda. Ditunjang penampilan fisik yang dapat dipastikan digandrungi remaja pria dan wanita tak pelak memuluskan langkah keduanya pada tiap episode. Hal ini yang kurang dimiliki Isa dan Yohanna, sekalipun suara keduanya dapat dikatakan jelas berada di level yang berbeda dibandingkan Fatin dan Mikha. Di sisi lain, saya merasa keberanian Isa disini patut diacungi jempol, bahkan oleh Roeper and Ebert, karena dengan sistem SMS beberapa peserta terkadang mau tidak mau akan memilih untuk menurunkan idealisme nya dengan memilih lagu yang aman dan bertingkah ‘sesantunnya’ untuk mendapat penilaian positif pemirsa, hal yang sebaliknya ditunjukkan Isa dengan menampilkan keliaran yang apa adanya serta nampak naturally mendarah daging pada setiap aksi panggungnya.

Overall, para judges, utamanya Dhani dan Anggun dengan jelas terlihat berada dalam situasi yang bercabang dalam menjatuhkan dukungannya. Menilik pengalaman Rossa di Gala perdana yang dihujani respon negatif dari ribuan pemirsa seusai menjadi penentu hasil imbang 2-2 antara Dicky dan Ilusia yang mengakibatkan Dicky melambaikan salam perpisahan dikarenakan hasil SMS, para juri menjadi memiliki beban moril tersendiri terhadap imej masing-masing. Walau pada akhirnya hasilnya kembali deadlock atau imbang 2-2, dan hasil kembali merujuk pada hasil SMS yang menyebabkan Yohanna pulang, tak ada respon bernada miring yang ekstrem seperti apa yang Rossa alami. Seolah pemirsa memang menganggap hasil yang terpampang memang terjadi pada jalur yang tepat.

yohanna

  • Gala Live Show 4 (15 Maret 2013) – Peserta yang masuk bottom two: Illusia Girls & Gede Bagus

Lagu yang dinyanyikan Illusia Girls dalam Gala Live Show 4 dan ‘Save Me Song’ : Bryan Adams – Everything I Do (I Do It For You) & Lady Gaga You and I

Lagu yang dinyanyikan Gede dalam Gala Live Show 4 dan ‘Save Me Song’ : Aerosmith – I Dont Wanna Miss a Thing & James Morrison – Give Me Something

Hasil ‘Save Me Song’ session : 3-1 untuk Gede. Gede mampu meyakinkan Rossa, Bebi, dan Anggun, sementara Illusia tak cukup kokoh dengan hanya bermodalkan suara mentornya, Dhani.

Analisis Gala Live Show 4: Nampaknya ekspektasi penonton terhadap kualitas suara vokal grup di kontes ini cukup tinggi. Terbukti kali ini giliran Ilusia Girls yang harus terdepak dan menyisakan Nu Dimension di sektor Grup. Kesimpulan yang saya rangkum dari laman Youtube adalah ada beberapa (bahkan bukan beberapa) di antara pemirsa yang menyayangkan keputusan penggabungan mereka dalam grup, terutama untuk Iin Nur Indah. Peleburan ini dapat menjadi bumerang dikala mentor tak berhasil menyatukan mereka ke dalam satu visi. Di beberapa kesempatan saya menyaksikan mereka, ada kejanggalan dalam pembagian porsi bernyanyi. Kurang jelas siapa yang menjadi lead, ataukah memang semuanya ingin ditonjolkan secara bergantian, tapi ada yang terasa kurang pas saja. Sementara untuk Gede Bagus, pemilihan lagu sebenarnya sudah cukup tepat, sebuah karya legendaris yang sudah begitu lekat dan memiliki nama. Hanya saja, pemilihan nada dasar yang kurang pas membuat Gede kelabakan untuk menjangkau nada tertinggi di lagu ini yaitu mulai bagian bridge menuju part akhir dan setelahnya. Andaikata tak memaksakan untuk menggunakan nada dasar Steve Taylor (vokalis Aerosmith) dan menurunkan beberapa chord, eksekusinya akan lebih terdengar tidak memaksa dan hasil voting mungkin dapat berkata lain.

Overall, berhati-hati dengan aransemen, nampak terlihat tidak nyaman saat bernyanyi akan mempengaruhi penilaian pemirsa. Juga patut berhati-hati untuk Nu Dimension, ekspektasi penonton ternyata begitu tinggi untuk grup.

ilusia

  • Gala Live Show 5 (22 Maret 2013) –  Peserta yang masuk bottom two: Agus Hafiluddin & Shena Malsiana

Lagu yang dinyanyikan Agus dalam Gala Live Show 5 dan ‘Save Me Song’ : Once – Dealova & Michael Buble – Home

Lagu yang dinyanyikan Shena dalam Gala Live Show 5 dan ‘Save Me Song’ : Vonny Sumlang – Ratu Sejagad & Johny Mathis – Misty

Hasil ‘Save Me Song’ session : 3-1 untuk Shena. Shena mendapat 3 suara dari Dhani, Rossa, dan Anggun, sementara Dalagita hanya memperoleh 1 suara dari sang mentor, Bebi Romeo. Sebuah akhir dari perjalanan Agus Hafiluddin.

Analisis Gala Live Show 5 : Yang mencolok di episode kali ini adalah melencengnya karakter asli beberapa kontestan. Paling teringat di benak saya adalah mirisnya menyaksikan Alex Rudiart yang dipulas sedemikian rupa dengan gaya rambut kekinian ala boyband korea, baju rumbai yang terlalu glamour, parahnya kesan rock terlalu dipaksakan dan dihighlight secara berlebihan dengan hentakan badan yang tidak terlalu nyaman dilihat. Untuk dianggap rock dan cool bukan berarti harus melakukan aksi power slide serta mengacungkan metal dengan lidah nyaris menjulur ke arah kamera di akhir lagu ‘Beraksi’ yang ia bawakan. Hal itu hanya menambahkan kekonyolan Bebi yang dengan dalih ‘agar tidak nampak seperti Once’ melakukan make over yang menggerus aura rock natural pada penampilan fisik Alex dari awal hingga Gala show ke 3. Diperkuat mayoritas respon negatif di jejaring Youtube yang dengan lantang menyuarakan ‘kembalikan Alex yang dulu’. Suatu hal yang dapat menjadi bumerang bagi Bebi dan timnya apabila suara-suara tersebut tak menjadi bahan evaluasi. Begitupula nasibnya dengan member tim Bebi lainnya, Agus Hafiluddin, yang menerima resiko dari eksperimen menyanyikan Dealova dengan aransemen berbeda. Tak ada yang salah dengan eksperimen, hanya eksekusinya menjadi begitu ternoda oleh lirik yang terlupa di pertengahan lagu, ekspresi ‘lupa’ nya pun begitu nyata terlihat ketika Agus berusaha menutupi mukanya, padahal pada kelanjutannya nampak interpretasi yang dilantunkan Agus mampu sesaat membuat sosok Once Mekkel terlupa dari keseluruhan lagu ini.  Sementara untuk Shena, secara kualitas dan kapabilitas bermusik tak perlu dipertanyakan, terkadang ia ikut serta meramu aransemen yang akan disajikan, ditambah personality nya yang ekstrovert membuat gesture panggungnya terlihat luwes tak dibuat-buat, lepas, dan natural. Hipotesa saya mengerucut pada satu statement (yang belum teruji tentunya) bahwa fans Shena adalah golongan menengah atas, dikarenakan ia kerapkali membawakan lagu Jazz, belum mampu menandingi kuantitas orang yang mengirim SMS untuk kontestan lain. Namun, melihat di 4 Gala pertama Shena masuk di kategori aman, hipotesa lain muncul yaitu mulai tumbuhnya rasa terlalu optimis di benak pendukung Shena, ataupun para swing voters, bahwa “Ah Shena, pasti aman dan sudah dapat banyak dukungan SMS, gausah di SMS lagi deh kayanya”. Jika hal ini benar terbukti, tentunya tak perlu diragukan alasan mengapa posisi Shena melorot drastis ke area bottom two. Berkaca pada penampilan Agus, dapat terbukti bahwa ucapan adalah doa. Dengan lantangnya ia menyuarakan ‘I Just wanna go home……‘ maka terkabullah. Ah tidak sih, sebenarnya tak ada hubungannya, namun ada baiknya memilih ‘Save me song’ yang bernada lebih optimis semacam “Save Me” dari Queen. 

Overall, Gala paling penuh hal menarik sejauh ini. Penuh kejutan, gimmick, dan hal-hal yang tak terduga. Dari segi hasil, menurut saya Agus cukup layak untuk mengucap selamat tinggal pada yang lainnya. Selain dikarenakan demam panggung yang mendera sehingga sempat dua kali lupa lirik di lagu Dealova dan Home, juga karena memang ia tidak seistimewa kontestan lain, khususnya episode ini. Mungkin lain cerita apabila persiapan Agus lebih mantap sehingga faktor ‘lidah terpeleset’ tidak terjadi.

agus

Kesimpulan dan Saran: Dari review di atas dapat ditarik beberapa kesimpulan dan masukan.

Kesimpulan: Langkah awal tentunya menghindari terjerembab di urutan bottom two. Hal pertama yang harus diperhatikan adalah fakta bahwa tiap episode memiliki tema tersendiri. Di sini, peserta harus secara cerdas menyortir, tentunya dari berbagai pilihan yang ada, lagu yang sesuai tema, mampu dieksplorasi lebih dari karakter penyanyi aslinya, serta memiliki part reff yang dapat menonjolkan kemampuan maksimal kontestan, akan menjadi poin plus apabila memilih lagu yang telah cukup familiar di telinga pemirsa. Kedua, tak dipungkiri, selain kualitas suara dan pemilihan lagu, penampilan serta aksi panggung akan menjadi faktor pertimbangan para pemirsa, khususnya mereka yang tak fanatik pada satu kontestan, istilah lainnya swing voters, untuk menentukan siapa yang akan ia dukung melalui pesan singkat ataupun sambungan telepon tiap minggunya. Ketiga, tentunya faktor X itu sendiri. Tak jarang kontestan yang dianggap ‘ biasa saja’ oleh para ribuan ‘dosen penguji’ dan mendapat predikat underesimated  mampu dengan mulus lolos ke babak berikutnya, ada suatu ‘hal’ tak nampak yang seolah menarik perhatian orang untuk mendukung peserta tersebut sekalipun performa nya tak semaksimal seharusnya. Keempat, faktor luck cukup menentukan di sini. Adakalanya ketiga faktor itu telah terbungkus rapih, namun hasilnya tetap menghela nafas di bottom two. Namun, luck di sini patut digaris bawahi, bukan sekedar mengharapkan keberuntungan datang. Pepatah mengatakan bahwa ‘leberuntungan menginggapi karena adanya persiapan sebelumnya’, maka tanpa preparation yang penuh kesungguhan dan tak lupa berdoa kepada Sang Pencipta, jangan berharap dewi fortuna akan turun dari khayangan dan memberi pertolongan. Keempat faktor tersebutlah yang penulis rasa patut diperhatikan oleh para kontestan beserta mentornya demi mengindari posisi bottom two pada episode selanjutnya.

Saran: Untuk kontestan yang tersisa yaitu Nu Dimension, Fatin Shidqia, Alex Rudiart, Gede Bagus, Novita Dewi, Shena Malsiana, Isa Raja, dan Mikha Angelo.

Nu Dimension (NuDi): Kekuatan mereka adalah mampu memanfaatkan momentum kevakuman pada kategori boyband dengan kualitas vokal yang mumpuni di era musik Indonesia terkini. Ini diperkuat dengan pernyataan Ahmad Dhani yang selalu ingin mencerdaskan selera musik anak bangsa melalui sebuah suguhan lagu yang baik. Yang perlu diperhatikan adalah gimmick. Peluang mereka menang cukup terbuka andai dapat terus mampu menyuguhkan penampilan seprima saat mereka membawakan lagu Thriller dari MJ. Gimmick masih terjaga ketika mereka berkolaborasi dengan para personil Dewa 19 di Gala episode 5. Walau sebenarnya, karakter mereka belum terbangun dengan baik, entah aliran musik apa yang kelak paten menjadi jati diri mereka, namun kehadiran Jonathan Ariel Matulessy, satu-satunya punggawa berkulit legam, menjadikan suatu ciri khas visual yang jelas. Yang berpotensi merusak hanyalah latar belakang mereka berempat adalah solois, meredam ego menjadi PR mingguan wajib bagi Sang mentor apabila tak ingin melihat mereka ‘berjalan’ secara individu dan bukan berangkulan dalam satu kesatuan tim.

nudi

Fatin Shidqia: Fenomena demam Fatin melanda diakibatkan 3 hal. Pertama, karena faktor kontras. Kontras di sini adalah melihat suatu hal yang diluar kelazimannya. Seorang wanita muda berjilbab yang sekilas nampak lebih cocok mengaji di pondok pesantren malah tampil modern dan ‘meledakkan’ Grenade milik Bruno Mars. Kedua, secara fisik penampilannya mudah dikenali dan memiliki daya tarik yang kuat. Ketiga adalah dikarenakan keunikan suaranya yang serak di beberapa tarikan suaranya. Secara fashion, Rossa mampu memperlihatkan peningkatan dalam cara memberi pengarahan terhadap style seperti apa yang lebih baik dikenakan Fatin tiap minggunya. Yang tak boleh terlupa adalah apa yang dialami Shena yang secara tak terduga berkubang di bottom two dapat menerkam siapa saja tak terkecuali, maka mau tak mau penampilan Fatin tak boleh dibiarkan monoton. Tak perlu terlalu banyak iringan dance, karena selain kurang pantas, personality nya yang masih pemalu tak mendukung tarian menjadi terlihat natural, cukup menambahkan dengan (mungkin) kolaborasi, dan special gimmick untuk menaikkan tingkat simpati terhadapnya. Dengan segala keunikan karakternya, Fatin adalah penyanyi yang bukan bertipikal pembagus lagu apa saja, ia membutuhkan lagu yang tepat sesuai karakter suaranya seperti ‘Perahu Kertas’ di edisi terakhir. Dengan kesederhanaan yang disuguhkan malah menonjolkan satu diferensiasi dengan kontestan lain. Sekali lagi tak perlu untuk berjingkrak demi misalnya bersaing dengan keliaran Isa Raja dan Alex Rudiart, tak akan berhasil. Cukup menjadi seperti apa adanya.

fatin

Alex Rudiart: Menarik membahas kontestan satu ini. Mengawali perjalanan audisi dengan hits dari Queen menyelimutinya dengan resiko ‘harus selalu lebih dari itu’. Kesiapan itu ia tunjukkan dengan membawakan genre zona nyamannya yaitu lagu-lagu di era classic rock dan 80an semacam Roxanne dari The Police. Ia nampak kurang nyaman ketika menyanyikan lagu berbahasa Indonesia semacam ‘Separuh Aku’ di babak Bootcamp dan Perbedaan (terutama di nada-nada rendah seperti komentar dari Ahmad Dhani) di Gala Show. Ada baiknya Alex dibiarkan berada di jalurnya dan tak perlu dipaksakan untuk ‘membuktikan’ bahwa ia bisa melahap genre yang bukan ‘jodohnya’. Perubahan penampilan Alex terasa saat ia membawakan lagu milik Iklim ‘Suci dalam debu’. Tak ada yang salah dari eksekusinya, tetap baik, hanya saja dari segi branding ini merupakan kesalahan fatal. Konsistensi diperlukan untuk mengunci suatu keyword pada benak pemirsa terhadap kontestan. Jika ingin agar pemirsa mengenal Alex sebagai rocker dengan selera musik yang istimewa, tak perlulah disisipi lagu Metal (Melayu Total) yang hanya akan merusak citra yang sedang diretas. Diperparah dengan outfit saat Gala Show ke 5, Alex mengenakan baju ala K-Pop dengan gaya rambut yang melunturkan sisi cool yang telah melekat sebelumnya, diakhiri power slide penuh kesia-siaan di penghujung lagu. Definitely, for me, that was the worst performance by Alex. Beruntungnya ia masih aman terselamatkan dan belum sekalipun mengecap posisi dua terbawah. Namun, tak menutup kemungkinan jika Bebi selaku mentor tak mengubah kebijakan dalam penampilan Alex, tak menjamin anak asuhnya tersebut masih aman tenteram melenggang mulus.

alex

Gede Bagus: Gede Bagus terus bertahan melanjutkan perang ini dengan menyandang status kuda hitam, mencoba mencari apa yang bisa membuatnya terlihat berbeda dibandingkan dengan kontestan lain. Sedari awal, ia mencoba mengunci sebuah ciri khas dengan menggunakan kupluk, namun dalam beberapa episode kebelakang ia tanggalkan hal tersebut dengan alasan yang tidak saya ketahui (mungkin tidak senada dengan konsep outfit yang diinginkan divisi penata busana). Hal ini mengakibatkan ia kehilangan sesuatu yang dapat membuatnya mudah diingat. Ciri khas menjadi suatu hal yang tak dapat dikesampingkan, ingat kontestan lain pun berlomba menampilkan sesuatu agar masing-masing menjadi Top of mind di benak pemirsa (walaupun di sisi lain Top of Mind bukan berarti Top of sales). Semisal Isa Raja dengan aksi panggung, anting dan stand mic berhiaskan dedaunan, Fatin dengan hijab nya, Alex dengan rocker style nya, Novita dengan rambut merahnya dan terutama suara melengkingnya, Shena dengan aransemen jazz dan ‘glamor’ nya, NuDi dengan….ya jelas berbeda karena satu-satunya kontestan grup yang tersisa, dan Mikha Angelo dengan semangat muda dibalut baby face yang kental berlatarbelakang kepintaran yang ia bawa dengan telah menjadi mahasiswa di usia belia. Maka Gede Bagus harus dengan segera menyadari hal ini, ia butuh jati diri yang mengkoneksikan antara benak pemirsa dengan suatu karakter berbeda yang membuatnya mampu stand out. Dari segi suara, sesuai namanya, Bagus dan memang bagus, tinggal menambahkan bumbu dan polesan karakter itu tadi.

gede

Novita Dewi: Dengan segala kontroversi yang mengiringinya, entah tudingan miring bahwa ia adalah kontestan yang telah malang melintang di dunia perpanggungan terutama kontes menyanyi, bahkan telah membuat album, kualitas suara yang Novita tunjukkan jelas tak main-main. Setelah mendapat klarifikasi serta dukungan dari Dhani yang menyatakan bahwa di X Factor memang tak ada batasan bagi para kontestan, entah itu penyanyi pro ataupun bukan, tentunya sedikit melepaskan cengkraman beban pikiran yang mungkin melanda Novita. Di barisan wanita, ia berbeda apabila dikomparasikan dengan Fatin. Novita jelas mempertontonkan apa yang disebut ‘jam terbang berbicara’. Apapun lagu yang ia tampilkan, selalu tereksekusi dengan sentuhan improvisasi kelas wahid, membuat dirinya seolah merampok kepemilikan lagu tersebut dari penyanyi aslinya. Kecerdikannya adalah ia dua kali memilih lagu milik Peterpan/Noah yaitu ‘Langit tak Mendengar’ dan ‘Bintang di Surga’. Dengan fakta bahwa band tersebut memiliki basis penggemar yang fanatik, tak menutup kemungkinan para Sahabat terhipnotis mengirimkan SMS untuk Novita, dengan catatan eksekusinya menggugah, berimprovisasi, namun tak menghilangkan makna asli lagunya. Maka tak menutup kemungkinan Novita kembali membawakan lagu milik band dengan vokalis Ariel tersebut ke depannya. Seperti halnya Shena, Novita harus berhati-hati dengan kemungkinan pandangan pemirsa yang terlalu menganggapnya sangat-sangat bagus dan telah memiliki support SMS yang bejibun sehingga mengakibatkan ia tak mendapat dukungan maksimal dan harus mencicipi Save me song untuk pertama kalinya.

novdew

Shena Malsiana: Ketidaksempurnaan adalah seni. Lihat saja lukisan abstrak yang rancak dengan tumpukan warna-warni namun terjual ratusan juta rupiah. Ini yang menyebabkan harus ada keragaman dalam suatu acara semacam ini. Nampak seperti perwujudan reinkarnasi Regina Ivanova di ajang Indonesian Idol terakhir, Shena menonjol dengan ke’apa adanya’ dia namun dikemas dengan tingkat confidence yang tinggi sehingga penonton tetap mampu menikmati setiap penampilannya. Shena seperti menjelma sebagai satu sosok ‘The messenger’ yang ingin menyampaikan sebuah pesan kepada wanita Indonesia, yang terkadang terlihat gemuk sedikit saja sudah mengeluh sedemikian rupa, bahwa jika kita mampu terlihat pede maka kita akan tetap terlihat menarik dan cantik dibalik apa yang dirasa sebagai suatu kekurangan (Tukul pun mengajarkan hal yang sama). Menilik dari segala segi, hal yang dapat membuat ia harus angkat koper terlebih dahulu hanyalah faktor nonteknis yang telah saya jabarkan sebelumnya. Over confidence pun ditunjukkan dengan ekspresi ketidaksiapan Rossa dalam menerima Shena di bottom two dengan berujar “Saya tidak tahu kenapa dia ada di posisi dua terbawah, dia tidak layak berada di sana.” Belajar dari hal ini, penting bagi mentor dan terutama para fans seluruh kontestan untuk tidak terlalu percaya diri bahwa anak didik dan jagoannya dapat dengan mudah melaju, terus saja berbenah mengevaluasi serta mengirimkan dukungan, itu yang terpenting. Karena ini semua hanyalah sebuah game semata yang rule nya telah jelas, SMS tertinggilah pemenangnya.

shena

Isa Raja: Underdog. Isa berangkat dari yang tak diunggulkan, hingga membawa suatu hal yang tak biasa menuju level dimana hal tersebut pada akhirnya dapat diterima khalayak. Pemirsa memang butuh waktu untuk beradaptasi menyaksikan style yang Isa bawa. Dua kali terjerumus di dua terbawah pada beberapa episode Gala perdana hingga dapat konsisten selamat di dua episode terakhir setidaknya membuktikan hipotesa ‘adaptasi’ itu. Untuk menjaga kans, meredam idealis nampak dapat menjadi suatu solusi. Penampilannya membawakan ‘Yang Terlupakan’ dari Iwan Fals jauh dapat diterima oleh mayoritas telinga pemirsa ketimbang saat membawakan Losing My Religion dari REM. Ada baiknya Isa mengombinasikan pemilihan lagu, mencoba mengandalkan intuisi ‘sejauh mana idealis saya dapat diterima’, antara lagu Barat legendaris maupun terkini yang dapat mengokohkan idealisnya, dengan lagu lokal berkualitas karya musisi dengan reputasi bagus di mata masyarakat luas.

isaraja

Mikha Angelo: Saya termasuk salah satu dari yang tak setuju jika Mikha adalah kontestan yang dicap hanya bermodalkan tampang. Ia benar-benar bisa bernyanyi. Kecemburuan sosial karena Mikha banyak didukung wanita lah yang mengakibatkan ia seperti diunderestimated kan oleh para kaum Adam. Dengan umurnya yang masih sangat muda, ada baiknya ia menggali kemampuannya dengan tak hanya menyanyikan lagu-lagu top terkini, namun juga lagu-lagu legendaris. Akan menjadi bahaya jika ia masuk ke bottom two dan harus berhadapan dengan penilaian Dhani yang terkenal kerap menggaungkan statement bahwa ‘kebanyakan kontestan itu lack of knowledge mengenai lagu dan hanya tau lagu terkini’. Sangat sayang jika kehilangan satu suara judges hanya karena hal tersebut. Dari segi vokal ia belum memiliki skill mumpuni untuk bersaing dengan halnya Novita, Alex, ataupun Isa pada poin high note atau nada tinggi. Jadi seperti halnya Fatin, ada baiknya Mikha berfokus pada apa yang dapat menjadi kelebihannya, entah itu bernyanyi dengan gitar ataupun apa, performance nya kental dipengaruhi oleh John Mayer dan dapat dimaksimalkan dengan mengaransemen lagu lain dengan karakternya tersebut. Siapkan ‘Save me Song’ yang ampuh, untuk berjaga-jaga, akan lebih baik mempersiapkan lagu jadul berkualitas dipadu eksekusi sempurna untuk setidaknya mengamankan suara dari Dhani.

mikha

Mengerti Judges: Sebenarnya tak hanya cukup dengan mengamankan suara Dhani, kontestan pun harus mengerti karakter dari masing-masing judges lainnya. Kira-kira seperti apa selera musik, pandangan, serta rekam jejak karakter mereka saat memberikan hak veto di sesi Save Me Song. Dari hal-hal itulah keputusan akhir dalam pemilihan lagu untuk Save me song dapat ditarik. Juga akan sangat menarik melihat apabila dua posisi bottom two diisi kontestan dari satu mentor yang sama, semisal Gede Bagus dan Mikha ataupun Isa Raja vs Alex Rudiart. Karena kecenderungan selama ini, mentor pasti akan selalu memberikan suaranya bagi anak didiknya seperti apapun penampilannya di sesi Save me Song. Sehingga apabila skenario ‘terburuk’ bahwa ada dua peserta dari tim yang sama, maka dipastikan kita akan melihat penilaian mentor yang lebih obyektif dibandingkan sebelumnya.

Melihat fakta-fakta di atas, tersirat jelas peluang masing-masing kontestan masih terbuka lebar. Dengan segala kejutan yang masih memungkinkan untuk terjadi di depannya, akan datang waktu dimana seseorang yang diunggulkan kembali terkulai di posisi dua terbawah apabila tak mampu menyusun strategi di jalur yang tepat.

Handry (penikmat musik saja)

Jum’at 29 Maret 2013

@handrymar

Iklan