Handry

[REVIEW] Konser “Welcome Home NOAH” : 12 November 2012 (Trans Convention Center, Bandung)

In Jejak-Jejak Sekitar on 13/11/2012 at 2:30 pm

Mudik. Ya, setelah bertahun tak menghangatkan kota kembang dengan aksi panggung mereka (di samping penampilan mereka di SCORE! dengan sisa personil yang ada, beberapa saat sebelum sang vokalis bebas) akhirnya 5 pemuda ini kembali menginjakkan kakinya ke ‘rumah’. Dengan nama baru, menyertakan album baru, tentunya dengan nafas baru. Saat Peterpan masih berkibar, dari sinilah semua itu berakar, hingga kini telah bertumbuh menjadi pohon yang besar. Dengan terpaan ‘angin’ kala semua telah meninggi, namun semua telah terlalui, masa depan menanti.

Dengan harga tiket yang tergolong cukup untuk membuat seseorang merogoh dalam-dalam kocek mereka, juga termasuk mahal untuk ukuran konser band dalam negeri, jelas sold out adalah prestasi. Hingga saya tiba di Trans Studio Mall, telah menanti calo-calo tiket yang siap merugi dengan menawarkan harga yang tentunya lebih gila.

Tertera pada potongan tiket bahwa open gate adalah tepat pukul 7 malam, namun yang ada antrian penonton dibiarkan menanti selama satu setengah jam, hingga akhirnya saya pun baru berhasil berada di festival zone sekitar 20.30. Mungkin bukan ketidaksiapan panitia, melainkan hanya skenario membuat penonton semakin dibuat penasaran dan tidak sabar.

Tepat pukul 21.00 video intro diputarkan di layar besar yang terdapat di sebelah kanan stage, hingga akhirnya tirai putih penutup stage terbuka, dan nampak beberapa alat musik tradisional seperti angklung dsb. yang mulai memainkan nada-nada yang  menyiratkan satu judul lagu sebagai pembuka. Di tengah itu, seketika bodyguard menyeruak di tengah penonton area festival zone meneriakkan “minggir…minggir”, ternyata Lukman masuk ke stage dengan menenteng gitar andalannya dari arah penonton. Saat Lukman mencapai panggung, meledaklah lagu pembuka “Langit Tak Mendengar” dengan Ariel yang muncul mengenakan jaket kulit membalut kaos bertuliskan “YOU”.  Koor menggema mengikuti lantunan Ariel. Setelahnya NOAH menggeber “Khayalan Tingkat Tinggi” dan dilanjut dengan “Walau Habis Terang”. Ariel lalu menyapa penonton dengan ucapan “Kembali ke rumah selalu menyenangkan, betul? Simpan energi kalian, kami akan banyak kolaborasi dan kejutan malam ini. Malam masih panjang.” Ariel yang menenteng gitar pun memulai kembali, “Namun sebelumnya saya ingin mengetes suara kalian. Ooo, ku mencari sesuatu yang telah pergi..” yang diikuti koor penonton mengikuti Ariel dengan gitarnya, David, keyboardist, pun mendentingkan keyboardnya untuk memulai “Di atas normal”, lagu yang di ambil dari album “Bintang di surga” ini sukses menaikkan tensi acara. Tak lelah NOAH menyuguhkan lagu-lagu baru di list berikutnya seperti “Sendiri Lagi” dan “Terbangun Sendiri”. Seperti pertunjukkan mereka di kota-kota sebelumnya, kali ini pun mereka menampilkan medley unik “Menghapus Jejakmu” yang dipadukan dengan hits “Viva la Vida” yang dipopulerkan grup band Inggris, Coldplay.

Seperti janji mereka di awal, kejutan tak henti disuguhkan. Kali ini Ariel meminjam bass yang sebelumnya ditenteng additional bassist Ihsan Nurrachman dan mulai bercerita kembali ke masa lalu. “Dulu, saya dan Uki, selalu bersaing di kelas dalam hal jago bermain gitar. Namun, kini Uki lebih jago karena saya sudah berhenti bermain gitar. Dan, dulu sebelum berkibar bersama Peterpan, saya dan Uki sempat juga punya band, yang beberapa kali ikut audisi namun sempat kami memutuskan pulang di salah satu audisi. Kami bermain bersama Erik dan Qibil yang kini berada bersama The Changcuters. Kami memulai dengan jalur yang berbeda, namun pada akhirnya bertemu di puncak sini. Ayo kalian, jangan malu untuk keluar!” Seketika Qibil dan Erik “The Changcuters” pun naik ke atas panggung. Formasi band ini berisikan Erik (drum), Uki (gitar), Ariel (bass, back.voc) dan Qibil (Gitar, vocal). Mereka membawakan dua buah lagu dan sukses menyuguhkan sisi lain diluar kebiasaan dari personil gabungan NOAH dan The Changcuters ini. Setelah selesai, Qibil sang vokalis pun berkelakar “Terimakasih. Aah, ancuuur!” Ariel pun menambahkan candaan “Akhirnya band kami yang bernama Cholesterol ini tampil untuk pertama kalinya di event besar. Sekaligus akan kami bubarkan malam ini juga.”

Ariel

Ariel (kiri) bermain bass, dan Qibil bermain gitar serta mengambil alih kendali Mic

Setelah kembali dengan personil NOAH yang utuh, mereka pun memanaskan malam dengan “Hidup Untukmu, Mati Tanpamu” sebuah lagu dari album terbaru mereka “Seperti Seharusnya”. Ariel beberapa kali mengabadikan dirinya dengan berfoto membelakangi panggung menggunakan kamera polaroid. Lagu baru tak berhenti disitu, “Jika Engkau” berada di list berikutnya. Tensi menurun ketika NOAH memainkan “Tak Ada yang Abadi”.  Seusai lagu tersebut, Ariel berucap “Kami senang kembali ke sini, karena bertemu lagi dengan kawan musisi yang hebat, kita sambut ‘Karinding Attack’ “. Karinding Attack, satu grup yang memainkan instrumen daerah sunda seperti celempung dan suling ini pun naik pentas dengan mengenakan pakaian seperti gamis berwarna putih. NOAH dan Karinding Attack menampilkan satu lagu lama yaitu “Sahabat” yang diaransemen secara instrumental.

Ketika lagu tersebut selesai dibawakan, stage crew mengangkat sebuah harpa keatas panggung, membuat penonton, termasuk saya, bertanya-tanya lagu apa yang akan dibawakan selanjutnya. Harpa, yang dimainkan wanita bernama Dona ini, pun mulai bersuara. Intro “Semua Tentang Kita” terdengar manis dibawakan dengan sentuhan berbeda. Diiringi dentingan keyboard David, Ariel mulai melantunkan lirik-liriknya. Di reff terakhir, Ariel mengajak salah seorang penonton wanita yang beruntung untuk naik ke atas panggung. Kontan, para wanita yang berkumpul di gedung ini berteriak histeris seolah cemburu pada wanita tersebut, apalagi saat Ariel beberapa kali mendekatkan wajahnya ke arah telinga wanita itu untuk membisikkan (walau tak terdengar, tapi saya tahu Ariel pasti berkata kurang lebih seperti ini) ‘kamu habis part ini nyanyi reff terakhir ya. lanjutkan saja gapapa’. Wanita tersebutpun menyanyikan reff terakhir dengan suara yang mengundang tepuk tangan penonton, karena memang cukup bagus. “Terimakasih. Kamu datang sama teman-teman ya? Hai teman-temannya. Tepuk tangan semua.” ujar Ariel di akhir lagu bertanya pada wanita tadi.

Malam yang masih panjang membuat Ariel terus menikmati tiap lagunya, ia pun tampil solo untuk menyuarakan “Dara” yang diciptakannya selama berada di dalam Rumah Tahanan. Setelahnya, para personil NOAH kembali ke atas panggung, “Ini juga lagu baru kami, menurut polling lagu ini adalah lagu yang paling kalian inginkan kami bawakan langsung. Jadi kalian harus tanggung jawab untuk nyanyi bareng. Semua siap?”. Lagu “Tak Lagi Sama” karya David dan Ihsan pun membahana, tak sedikit penonton yang telah hapal lirik dari lagu, yang menurut saya, paling manis dalam album “Seperti Seharusnya”.

Kelar lagu tersebut, terdengar hentakan bass yang keras entah darimana, tiba-tiba muncul seorang yang familiar ke atas panggung, ialah Indra, mantan personil Peterpan. Ariel kembali bercerita “Malam ini kami menampilkan sebuah perjalanan. Perjalanan kami dari dulu hingga kini.” Saat intro “Ada apa denganmu” dimulai, tak disangka Andika, mantan keyboardis dan penggagas Peterpan, pun ikut bergabung di panggung, lagu inipun dibawakan secara featuring bersama mereka berdua. Di lagu berikutnya, David tidak ikut bermain, hingga akhirnya yang berada di atas panggung adalah pure seluruh personil asli dari Peterpan. Untuk mengenang formasi ini mereka membawakan “Masa Lalu Tertinggal” dari album 3 juta kopi, “Bintang di Surga”, yang seolah menyiratkan bahwa ‘yang lalu biarlah berlalu’, pada liriknya pun berkata demikian “Dan kini kubiarkan masa lalu menghilang, dan tanpa beban aku meninggalkan belakang. Di penghujung lagu, kedua mantan personil yang kini tergabung bersama The Titans tersebut memberi ucapan selamat dengan merangkul personil NOAH.

Usai kolaborasi dengan ex-bassist dan ex-keyboardist, gimmick dilakukan NOAH dengan meminta personil lain, selain Ariel, untuk menyumbangkan suara. Berdasarkan tepuk tangan penonton maka terpilihlah Reza, sang drummer. Ia pun maju untuk menyanyikan verse awal dari lagu “Mungkin Nanti”, walau sempat salah, entah skenario atau bukan, ia pun menyelesaikan verse dengan suara yang not bad lah, sisa lagu pun diserahkan kembali pada Ariel untuk diselesaikan dengan bantuan koor massa yang jelas sudah hapal hits lama Peterpan ini. Pada lagu berikutnya, lagu dari album perdana Peterpan “Taman Langit” kembali dibawakan, lagu berjudul sama dengan judul albumnya dibawakan dengan versi lain dibandingkan versi rekaman mereka terdahulu. Kali ini tampil dengan aransemen lebih dewasa, ditambah sentuhan violin yang dimainkan oleh violinist bernama Afa (kalau tidak salah dengar).

Indra “The Titans” ex “Peterpan” (kiri) beradu skill dengan Lukman. Kembali reuni

Andika “The Titans” ex “Peterpan” (keyboard bawah) saat mengisi “Ada apa denganmu” dengan David (atas)

Tak ingin membuang waktu, setelahnya, lagu “Tak Bisakah” dari album “Alexandria” menggema. Di akhir lagu menyemburlah kertas kertas kecil warna-warni, seolah pertunjukkan telah akan usai, ditimpali Ariel yang mengatakan “Terima kasih. Selamat malam”. Seluruh personil pun keluar dan panggung menjadi gelap. Jelas janggal, karena ini memang bagian dari encore yang telah disiapkan. Setelah penonton berteriak “we want more….” berkali kali, Lukman muncul dan melakukan solo gitar didampingi alunan ritmik dari keyboard David. Seketika muncul Ariel dan “Dengar laraku…suara hati ini memanggil namamu…” yang diikuti koor massal dari lagu yang telah merajai musik Indonesia 4 bulan kebelakang ini. “Separuh Aku” pun tanpa dikomandoi membuat penonton karaoke berjamaah, terutama pada bagian reff nya.

“Masih semangaat? Jadi kita lanjuuut?” teriak Ariel. Penonton yang adrenalinnya semakin terangkat dibawa ke tingkat lebih tinggi lagi dengan lagu upbeat yaitu “Cobalah Mengerti”. Epilog tak terelakkan kala penonton dibawa ke puncak tertinggi dengan lagu menghentak, “Topeng”. Semburan kertas-kertas kecil warna-warni untuk kedua kalinya malam itu pun menandai berakhirnya show dengan durasi dua setengah jam ini.

Ariel, Uki, Lukman, Reza, dan David pun berkumpul di tengah panggung. Seraya Ariel mengucapkan salam penutup, “Terimakasih semua, terimakasih Bandung yang telah melahirkan kami..”. Mereka berlima memberi salam penghormatan pada penonton, serta meninggalkan satu malam lagi yang akan dikenang dalam keseluruhan perjalanan mereka, juga perjalanan hidup para “Sahabat”.

Salam penutup

13 November 2012

Handry (@handrymar)

Iklan
  1. Liputan dan ulasan yang sangat menarik. Terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: