Handry

Lamunan hujan, bersandar pelangi

In Catatan Mahasiswa Biasa on 04/06/2012 at 10:42 am

5 Bulan, kurang maupun lebih. Alhamdulillah, meretas semester kesekian (8) dan menutupnya dengan lamunan senyum. Cukup berat, bahkan tanpa ekspektasi tinggi. Memulainya dengan langkah yang seadanya, mencoba mereduksi beban. Raungan mata kuliah yang menyita waktu, dipenuhi segala jenis penghamburan kertas dalam bentuk laporan. 7 mata kuliah dengan keseluruhannya berbobot 3 kredit, sama penting. Si sistem manajemen lingkungan (EMS), si perdagangan bisnis internasional (IBT), si perencanaan keuangan masa depan (Financial Planning), si pemerekan emosional (Emotional Branding), si tentang cuaca (Kebijakan Iklim), si keuangan korporasi yang terulang kembali (Corporate Finance), dan si sistem penggajian (Compensation Management). Masing-masing membubuhkan cerita bersejarah, cukup patut dikenang sebagai semester paling memorable sejauh ini. Namun, hanya singkat cerita saja, dari medan tempur 150 hari lebih ini.

EMS. Kurang lebih menyuguhkan kepedulian terhadap dampak pada lingkungan dari proses industrialisasi yang dilakukan oleh suatu perusahaan. Dituntut bekerja dalam kelompok, melakukan audit EMS terhadap 5 industri yang telah dipilihkan oleh staf pengajar, salah satunya yang saya kunjungi adalah Star Energy di Pangalengan. Menempuh perjalanan bis selama 3 jam, hanya untuk menyantap ‘suguhan selamat datang’ dan disajikan presentasi selama setengah jam lalu kembali pulang, cukup membuat kepala bergeleng tapi ya sudahlah, sistem. Pada akhirnya nilai AB yang muncul, mungkin ketidakmampuan saya membantai semua soal di Midterm Exam, sedikit dibawah target, but not bad.

IBT. Ini dia alasan yang membuat jatah tidur 5 bulan ini nyaris selalu dibawah 6 jam. Dituntut memilih sebuah produk, dan membuat plan untuk melakukan ekspansi produk ke negeri orang. Dalam hal ini saya dan kelompok memilih Yamazaki bakery, perusahaan roti asal Jepang, dan kami memilih Negara China sebagai target ekspansi produk roti tersebut. Staf pengajar telah memberi timeline untuk deadline pengumpulan per chapter. Memuat 5 chapter, kami dituntut terus menulis laporan setiap minggu, membagi tugas kepada semua anggota kelompok, belum lagi revisi yang datang 7 hari setelahnya harus diperbaiki di akhir nanti. Ditambah dengan permasalahan intern kelompok dimana ada satu orang yang kurang berkontribusi sehingga setelah berembuk dengan anggota lainnya, kami sepakat tak menulis namanya di laporan akhir. Mungkin terdengar cukup tega, tapi demi menjunjung nilai-nilai keadilan, ya yang terjadi apa adanya saja. Nilai A menyapa setelahnya, cukup diluar ekspektasi, karena pressure tinggi, tapi jelas saja patut disyukuri.

Financial Planning. Satu alasan terbesar mengambil mata kuliah ini adalah karena di booklet pengenalan mata kuliah pilihan tercantum kurang lebih : “What do you have to put your children through college?”. Jadi pikiran terbawa ke pemenuhan kebutuhan di masa depan, semoga ini ciri-ciri calon ayah yang bertanggung jawab haha. FP ini lebih kepada mengatur pemasukan, pengeluaran, merencanakan instrument investasi mana yang sesuai dengan profile resiko kita masing-masing, untuk memenuhi target-target financial yang ingin dicapai dalam durasi yang kita canangkan sendiri. Kuliah kebanyakan dikerjakan individual, diselingi report + presentasi kelompok di penghujung semester, diakhiri dengan UAS individu. Alhamdulillah, maksimal.

Emotional Branding. Salah satu mata kuliah yang semakin membuat semester ini seketat celana The Changcuters, sesak dengan report. Namun, menyenangkan, tak dipungkiri. Dibawakan oleh dosen dengan pembawaan selalu ceria, Mr.Herry Hoed, dan membicarakan mengenai penegasan pentingnya sisi emosional yang mampu menyentuh benak konsumen sehingga dengan senang hati menggunakan produk yang ditawarkan. Proyek besar yang harus diselesaikan selama 5 bulan ini adalah melakukan proses EmoBrand tersebut pada salah satu produk domestic yang masih dikemas secara ‘biasa’ saja. Akhirnya dengan berbagai pertimbangan, saya dan kelompok memilih produk “Aloe vera” dari Pontianak. Dalam prosesnya banyak suka-duka sebenarnya, mulai dari intern kelompok di awal terbentuknya masih sedikit goyah, belum mau terbuka secara smooth yang mengakibatkan macetnya ide-ide yang dibutuhkan. Brainstorming yang berulang, akhirnya menerbitkan secercah cahaya di atas kepala. Desain packaging berhasil divisualisasikan yang kami rasa tepat dan pas sesuai temanya, mengangkat budaya Pontianak. Sisanya adalah menyusun report, membuat dummy dari packaging, dan membuat poster akhir berisikan proses penyusunan mulai dari Introduction hingga ke Final Design. Saya mengambil tanggung jawab menyusun poster, dan hasilnya yang membuat senyum tergurat, karena berhasil menampung respon positif dari tiap pasang mata yang melihat. Walau membutuhkan biaya yang lumayan untuk proses print, packaging dll, kerja keras di mata kuliah ini begitu terasa, sehingga saat melihat bahwa nilai maksimal yang saya dapat, kerja keras sebanding memang sudah sepantasnya. Syukur

Kebijakan Iklim. Dengan dosen yang seperti mantan atlet binaragawan, sepertinya pelajaran ini akan benar-benar berbahaya dan waspada. Yang ada “asik-asik aja”. Walau dikungkung aturan “2 kali tidak masuk, you out!”, saya sih tak masalah. Mungkin menjadi masalah bagi para “petarung absen”, yang tak lelah mengemis “bro, absenin dong bro, NIM gue nih xxxxxxx”. Ceuk saya dalam hati teh, “yeuh, irung urang” atau artinya ”gatel bro, garukin” atau makna sebenarnya “Segerakan untuk memesan peti mati, jiwa semangat anda sudah almarhum.” Diisi dengan presentasi berkapasitas 15 orang yang memenuhi areal peterpan, oh sorry, areal depan auditorium, dengan hanya 2-4 orang yang bersabda. Oke lah, zamannya eksis dikedepankan. Sejauh ini nilai akhir belum keluar, tapi optimisme merebak sejalan dengan kisi-kisi UAS yang menyeruak beberapa jam sebelum perang akhir. InsyaAllah bos.

Corporate Finance. Saya tak mau panjang lebar membicarakan si “yang satu ini”. Haroream, cukup kelam, karena seharusnya jika tak terdistraksi oleh hal non-teknis di semester 5, mata kuliah ini tak perlu saya tongkrongi lagi setiap selasa pagi. Tidak muluk, hanya menargetkan yang penting lulus, bersama beberapa teman seperjuangan yang juga mengambil si CF ini untuk kedua dan (dengan doa) terakhir kalinya. Dengan harapan terbantu oleh “sikap”, mengambil hati dosen tutorial juga penting, saya selalu masuk dan tugas Alhamdulillah terkumpulkan cukup lengkap. Eksekusi terakhir berupa UAS terjalani dengan penuh imajinasi, tanpa essay, hanya berupa butir-butir pilihan, improvisasi. Dengan nilai akhir setengah di bawah B, at least dapat mengucap sayonara pada si korporasi.

Compensation Management. Saya perlu berterimakasih dengan adanya dosen tutor sebaik kak Lenny Martini, mungkin aura baiknya selalu membuat kelas menjadi tak terlalu kaku, bahkan bisa mengeliminasi kadar kantuk yang mendera di jam 7 kamis pagi. Mr. John Welly juga memiliki pengucapan Inggris yang paling baik mungkin di antara dosen SBM lainnya(punten bu, pak). Momen terbaik adalah dimana saya menyusun laporan serta presentasi individual untuk pemenuhan nilai Midterm exam. Di hari-H presentasi, sebelumnya telah ditentukan saya merupakan urutan 3. Jadwal awal jam 7, motor saya gerung-gerung tancap gas bergegas pergi seperti Komeng yang selalu terdepan. Baru sampai di Sulanjana, mogok ternyata pemirsa. Tanki bensin menunjukkan “punten, empty bos..”. Celaka ST 12. Mengingat waktu tempur semakin dekat, saya titipkan dulu saja di satpam alfamart, angkot caheum-ledeng pun bak superhero penyelamat. Sesampainya dengan terengah, namun tak ada lelah. Akhirnya saya presentasi di urutan ke-4. Cukup tenang wasweswos menjelaskan permasalahan yang ada di Garuda Indonesia beserta “rivalitas” pilot asing dan local. Ternyata, ada benarnya, ada hujan sebelum lengkungan warna warni, setelah mogok dan berlari presentasi, ada nilai terbaik satu kelas (bersama dua orang lainnya) menanti. (A)lhamdulillah

Kesimpulannya, “kenapa saya bisa menulis dengan slengean hanya di review kebijakan iklim?” Karena si mas dosen Armi Susandi yang memang crispy, garing dan renyah, serta mas kulin.

“Tak peduli seberapa deras hujan membasahi, ku janjikan kembali bila dirimu bersandar pada sabar. ” – Pelangi

Sekian, dan Terima (Aura) kasih

Handry
4 Juni 2012

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: