Handry

[Berbagi Pengalaman] : Pak Budi Rahardjo

In Tugas Mata Kuliah "Creativity & Innovation" on 25/10/2011 at 3:12 pm

Entah harus memulai dari mana. Yang saya rasakan, materi kuliah Creativity & Innovation hari ini begitu menarik untuk disimak (walau biasanya pun begitu adanya). Selain mengenai kretifitas dan inovasi, berisikan pula pengalaman-pengalaman nyata perjalanan hidup narasumber hingga saat ini.

Sebelum kuliah hari ini, Selasa 25 Oktober 2011, saya sempat membaca di media Pikiran Rakyat edisi 20 Oktober mengenai 5 blogger paling berpengaruh di kota Bandung (dimana pak Budi Rahardjo menempati posisi 1), dan yang terbersit adalah “edun euy…kapan bisa kaya mereka.” Saat itu bahkan saya tak mengingat bahwa tanggal 25 nya akan bertemu salah satu diantara mereka, dan begitu masuk ke kelas sudah ada wajah yang sempat saya lihat sedang berada di muka kelas, “eh, ini kan bapak yang nomer 1 di koran kemarin..” dalam benak saya. Sebuah kesempatan langka tentunya untuk menggali ilmu dan pengalaman dari pak Budi Rahardjo.

Pak Budi Rahardjo - Creativity & Innovation class - 25 Oktober 2011

Mungkin saya mulai dahulu dari kesan pertama yang saya tangkap mengenai beliau. Begitu awal beliau berbicara, kesan percaya diri begitu kental, dengan gaya berbicara yang lugas dan tegas, namun tak meninggalkan sisi humoris sehingga suasana yang terbangun menjadi hangat dan jauh dari kesan kaku yang berimbas pada mudah dicernanya topik pembicaraan yang diangkat pada pagi ini.

Beliau memulai pagi ini dengan membahas perkembangan dunia. Dari era Globalisasi 1.0 hingga yang terkini Globalisasi 3.0. Apakah itu?

Dari yang saya dengar, saya simpulkan dengan bahasa sendiri, bahwa :

Globalisasi 1.0 adalah era dimana kewarganegaraan seseorang menjadi penting. Orang berlomba-lomba memimpikan untuk menjadi warga negara A, B, C dan seterusnya diakibatkan oleh beberapa faktor.

Globalisasi 2.0 adalah era dimana orang mulai tak memperdulikan lagi warga negara, namun berlomba untuk dapat bergabung dan bekerja di berbagai multinational company.

Globalisasi 3.0 adalah era dimana kedua hal tersebut tak lagi terlalu memegang peranan yang vital, dan lebih baik berfokus pada pengembangan jati diri kita sendiri, proses pencarian karakter kita yang sesungguhnya yang dapat ditemukan melalui berbagai pengalaman yang berasal dari keberanian mencicipi asam garam proses hidup.

“Saya sih bikin perusahaan ga terlalu memikirkan untung, have fun saja.” ujar Pak Budi mengomentari perjalanan karier hidupnya yang begitu diwarnai oleh hitam-putih menggeluti dunia bisnis.

Pengalamannya melakukan 10 start up business dalam satu waktu, dan gugur 7, lalu melakukan hacking di salah satu bank dengan harus berhati-hati pada situasi yang ada, menggambarkan kehidupannya yang berwarna dan tidak monoton. Seperti haus akan sebuah hal baru setiap harinya.

Pada blog wordpress pribadi miliknya, pak Budi menantang pada dirinya sendiri untuk terus menulis setiap hari dengan tema yang berbeda-beda, agar tak membosankan dan sebagai ajang mengasah otak untuk terus memaksa menggali ide-ide baru, apapun untuk dituangkan dalam blognya tersebut. Tak heran, hingga saat ini blog milik beliau telah dibaca oleh lebih dari 2 juta pengunjung, dan bahkan masuk dalam jajaran orang berpengaruh di Bandung.

Dalam kesempatan memberikan pengajaran di kuliah kali ini, pak Budi pun tak lupa memberikan masukan untuk SBM ITB, yang dalam pandangannya belum menelurkan bisnis yang berbasis teknologi (apalagi berada dalam lingkungan ITB yang mengedepankan teknologi), seharusnya itulah yang menjadi diferensiasi dibandingkan sekolah-sekolah bisnis lainnya. “Kalo jualan warung-warung lagi sih, sekolah bisnis lain atau ga perlu sekolah juga bisa..” tambahnya.

Untuk melakukan dan menjalankan sebuah bisnis, ide yang diangkat tak melulu harus orisinil 100%. Ambil saja dari ide yang telah ada, namun kita tambahkan dengan sedikit inovasi dan tambahan fitur-fitur yang memungkinkan untuk dijadikan suatu komoditi unggulan yang dapat bersaing dan menghasilkan benefit tentunya.

Pak Budi saat bermain band (kopipakegula.blogspot.com)

Karena berasal dari latar belakang pendidikan elektro dan juga alumni STEI ITB, beliau tak lupa bercerita mengenai pengalamannya berkecimpung di dunia elektro dan informatika. Pak Budi yang juga hobi bermusik, mengkolaborasikan hobinya tersebut dengan pendidikan yang tekah ia kenyam sebelumnya, hingga sempat tercipta “Digital Entertainment (DE)” yang bekerjasama dengan bioskop di salah satu mall terkemuka di Bandung. DE adalah, kurang lebih, tempat jual-beli lagu seperti iTunes milik Apple, namun DE rencananya akan ditutup karena sistem yang belum memungkinkan diterapkan di Indonesia.

Sebagai penutup, saya melihat pak Budi Rahardjo ini memiliki beberapa kesamaan yang ada pada diri saya yaitu gemar bermusik, bermain futsal, dan menyukai hal yang berbau art, sehingga semoga kepercayaan diri, kegigihan, serta keuletan beliau sebagai seorang entrepreneur yang menikmati hidup dapat menular pada saya, dan juga orang-orang yang menyimak kisah tentangnya.

 

Handry M.Yudha

School of Business & Management ITB

Bandung 25 Oktober 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: